Sempat Uji Coba Pertama Alat Cuci Darah RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi, Khaidir Saat Ini Rasakan Manfaatnya

Sempat Uji Coba Pertama Alat Cuci Darah RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi, Khaidir Saat Ini Rasakan Manfaatnya

ROKAN HILIR – Pembelian peralatan cuci darah oleh pemerintah kabupaten Rokan Hilir yang ditempatkan di RSUD Dr RM Pratomo Bagansiapiapi sangat dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat. Hal ini diungkap oleh salah satu warga Jalan SMAN 2 Bagansiapiapi bernama Khaidir kepada wartawan journalis indonesiasatu.id ketika ditemui di warung kedai kopi depan Hotel Horison Jalan Perniagaan Bagansiapiapi, Selasa (20/10/2020). Dia diagnosis gagal ginjal sehingga harus melakukan Hemodialisa atau pencucian darah dua kali dalam seminggu. Setidaknya ada 3 alat yang digunakan saat proses cuci darah berlangsung. Tiga alat tersebut adalah mesin dialisis, dialiser (tabung cuci darah), dan selang dialiser.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemda Rohil dengan adanya peralatan cuci darah di RSUD dr RM Pratomo kota Baganmsiapaipi kami merasa terbantu,”katanya.

Dia menjelaskan dengan ada peralatan dan difungsikannya alat cuci darah tersebut maka dirinya sudah dapat melaksanakan cuci darah di Bagansiapiapi. Sehingga tidak perlu lagi ke Dumai untuk melaksanakan cuci darah. Karena jikalau mencuci darah di kota Dumai, Kata Ia, selain memakan waktu perjalanan ke Dumai yang membuat dirinya kelelahan saat waktu perjalanan juga menambah beban biaya.

“Saya yang pertama kali uji coba peralatan cuci darah tersebut di RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi. Banyak orang menakuti aku tapi aku tak takut. Iko buktinyo,”ujar Khaidir sambil menunjukkan pangkal lengan tangan kirinya yang tanpak menonjol seperti urat untuk tempat suntik cuci darah kepada wartawan.

Meskinpun banyak warga masyarakat waktu itu, mengatakan dia sebagai percobaan pertama untuk penggunaan alat cuci darah tersebut. Namun dirinya berkeyakinan bahwa petugas cuci darah di RSUD dr RM Pratomo sudah melaksanakan pendidikan sehingga mereka memang sudah ahlinya.

“Terbukti hingga sekarang saya telah dua tahun melaksanakan cuci darah di RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi,”katanya.  

Apalagi saat ini iuran BPJS dirinya telah dibantu oleh pemdakab Rohil sehingga dia saat ini tanpa biaya untuk melaksanakan cuci darah. Dia menjelaskan bahwa cuci darah dilakukan olehnya setiap dua kali dalam seminggu yakni hari Senin dan hari Kamis. Pencucian darah tersebut dialaminya hingga sekarang sudah hampir selama dua tahun. 

“Jelasnya kami cuci darah tidak berbayar,”tegasnya.

Khaidir harus melakukan cuci darah karena gagal ginjal yang dialaminya. Jika tidak melaksanakan cuci darah maka dirinya lemas dan sering muntah-muntah. Namun setelah cuci darah saat ini dirinya bahkan bisa mengendarai kenderaan. Hal inilah dirinya merasa bersyukur kepada Allah swt telah dapat melaksanakan cuci darah melalui RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi yang telah menyediakan peralatan cuci darah. Sehingga dirinya tidak perlu jauh lagi untuk melaksanakan cuci darah. Tambahnya mengatakan hal ini disampaikannya merupakan hal yang nyata dialaminya saat ini.

“Aku terima kasih botul kepada pemda Rohil, kepada direktur RSUD dr Pratomo Bagansiapiapi dr Tri Buana Tungga Dewi. Aku tak dapek membalehnyo. Cumo aku membalehnyo melalui doa atas kebaikan pemda Rohil yang dipimpin oleh Bupati H.Suyatno. Kami sebagai masyarakat tak dapek membalehnyo. Namun kami mengharapkan Suyatno sehat selalu sehingga apa keinginannya dijabah oleh Allah swt,”tuturnya. 

Sementara itu ditempat terpisah, direktur RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi, dr Tri Buana Tungga Dewi ketika ditemui di ruang kerjanya menjelaskan bahwa keberadaan pelayanan pencucian darah di RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi sudah berlangsung sejak tahun 2019. Persiapan penggunaan alat cuci darah tersebut dengan mempersiapkan tenaga medis yakni mengirimkan dokter spesialis dalam, dokter umum dan dua orang perawat yang bekerja di RSUD dr RM Pratomo ke RSUD Adam Malik di Medan untuk melaksanakan pendidikan khusus penggunaan alat cuci darah.

Dijelaskannya, karena banyak pasien Hemodialisa membutuhkan fasilitas untuk cuci darah di Rokan Hilir makanya RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi menyediakan peralatan cuci darah tersebut. Tetapi sebelumnya tentunya dengan menfasilitasi ketersediaan air bersih dan tenaga ahli untuk melaksanakan pelayanan cuci darah ini.

“Untuk menjalankan peralatan cuci darah terlebih dahulu kita membenahi ketersediaan air bersih yang harus terjamin. Karena di Bagansiapiapi ini rata-rata airnya memiliki kadar garam yang sangat tinggi. Oleh sebab itu terlebih dahulu melaksanakan proses air bersih. Kemudian mengirim tenaga untuk melaksanakan pendidikan di RSUD Adam Malik Medan. Selanjutnya membeli peralatan cuci darah,”tuturnya.

Sebelumnya alat cuci darah di RSUD dr RM Pratomo hanya memiliki 4 unit. Karena semakin banyak pasien Hemodialisa atau cuci darah maka saat ini sudah memiliki 8 unit alat cuci darah dan delapan tempat tidur yang dapat menampung setiap shift 8 pasien sehingga dalam sehari bisa menampung 16 pasien untuk Hemodialisa atau cuci darah. 


“Saat ini minimal kita harus memiliki alat cuci darah sebanyak 20 unit,”tutur dr Tri Buana Tungga Dewi.

Oleh sebab itu, lanjut direktur RSUD dr RM Pratomo Bagansiapiapi ini mengatakan sudah sewajarnya menambah ruangan khusus pelayanan cuci darah di RSUD dr RM Pratomo. 

Dalam kesempatan ini, dr Tri Buana Tungga Dewi juga mengatakan bahwa pasien cuci darah ada juga yang menggunakan BPJS kesehatan yang iurannya di biayai oleh pemdakab Rohil melalui APBD Rohil.

“Ada juga pasien cuci darah menggunakan layanan BPJS kesehatan,”tuturnya.

Sementara itu, informasi yang didapat dan dihimpun oleh media ini sebanyak 40 ribu peserta pembayaran iuran BPJS kesehatan di tanggulangi oleh pemerintah Rokan Hilir melalui anggaran di Dinas Kesehatan. Untuk mendapatkan jaminan kesehatan daerah (jamkesda) tersebut, kata Kadis Sosial Rohil dr Juneidi Saleh harus memenuhi syarat surat keterangan tidak mampu dari desa, KK, KTP Rohil, sudah masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) dan peserta BPJS mandiri kelas 3 yang gagal bayar iuran.

“Anggarannya di Dinas Kesehatan sedangkan kouta pesertanya dari Dinas Sosial,”jelas dr Juneidi Saleh. (adv)