Pelepas Hati Suram, Mancing Patin di Kolam

Pelepas Hati Suram, Mancing Patin di Kolam

ROKAN HILIR-  Aku Lelaki lebih dari setengah abad menyelusuri Jalan Te chong Ujung yang hanya selebar 1,5 meter menuju ke arah Barat yang sebahagian jalan tersebut setengah rusak. Kadang terjerembab dalam lubang-lubang yang penuh dengan kerikil kecil. Aku mengenderai kenderaan “botok” yang sudah usang termakan zaman namun onderdil mesin masih bertahan hingga saat ini. Meskinpun menahan lapar dan haus karena puasa Aku menjelajahi Jalan Tei Chong Bagansiapiapi, Sabtu (02/05/2020) sore itu.

"Sekejab lagi sampai lokasi,"ujar pria kurang setengah abad bernama Agung.

Setelah lima belas menit meniti jalan bergelombang, kami memasuki pintu gerbang jeruji besi yang berada disebelah kiri jalan. Aku, Lelaki lebih setangah abad dan temanku berusia kurang dari setengah abad itu memasuki kenderaan  dihalaman parkiran. Tepat dibawah pohon jambu kenderaan kami berhenti. Kami memarkirkan kenderaan disebelah kenderaan model terbaru. Persis didepannya ada kilang untuk mengolah padi menjadi beras. Masih terdengar bunyi mesin seperti mesin kepompong laut itu menderu.

"Kita lewat sini,"tuntun Agung.

Aku ikuti Agung yang juga menyelusuri jalan setapak, disebelah rumah tak berpenghuni. Masih ada pintu gerbang dari daun kelapa yang aku lewati harus dengan menundukkan kepala. Jalan setapak, meskinpun sudah di semenisasi namun masih ada juga yang terseleok pecah. Satu demi satu langkah kaki menapaki jalan setapak itu menuju ke arah selatan.

Tampak kiri dan kanan kolam penuh air keruh. Ada juga satu dua kolam dilapisi dengan jaring hitam. Kakiku berjalan terus menyelusuri jalan setapak. Kadang berkelok ke kiri mengikuti jalan pinggir kolam. Kadang ke kanan memilih jalan yang sebahagian telah ditumbuhi rerumputan. Meskinpun kaki sudah tak normal melangkah karena asam urat kambuh. Namun niat hati menuju kelokasi perlahan-lahan ditempuhi hingga menuju sasaran.

Di ujung jalan sudah tampak lelaki bertopi duduk di pinggir kolam. Joran pancing dipegangnya menunggu pelampung kail bergerak. Akupun duduk sejenak memperhatikan tali pancing itu.

"Nah ini dia,"suaranya lelaki bertopi itu bergetar sambil mengangkat kail keatas udara.

Bersamaan itu ikan menggelepar di ujung nilon mata kail. Seekor patin bergerak ingin melepaskan diri dari jeratan kail. Namun mulut patin sudah tertancap mata kail joran pria bertopi itu.

"Ada bawa pancing? Ini ada umpannya pelet,"tuturnya.

Aku hanya berdiam sejenak memperhatikan Agung berjalan menuju ujung lokasi. Kemudian Aku perlahan-lahan menuju pohon Jambu yang tumbuh di pinggir kolam. Akupun duduk dibawah pohon jambu itu. Aku duduk berselo berlantai tanah keras dipinggir kolam. Kuamati kiri dan kanan sambil menurunkan tas ranselku. Aku duduk sekitar sepuluh meter dari pria bertopi itu. Masih terdengar sayup-sayup mesin kilang padi. Beriringan dengan suara mesin  ekskavator membajak tanah di ujung lokasi.

Diam-diam aku buka isi tas ranselku. Joran pancing usang hasil pinjam dari tetangga aku keluarkan. Aku pasang kail di ujung nilon dan kuremas-remas pelet untuk melaburi mata kail. Lalu aku lemparkan kail ke dalam kolam. Kulihat pelampung dari busa bekas kulkas itu bergerak. Aku sentak  kemudian aku angkat keatas.

"Ah pecah telor,"ujar aku gembira.

Seekor Ikan patin warna kelabu yang dapat hasil joran pinjam itu kemudian aku masukkan kedalam tas kresek merah. Semakin waktu berjalan semakin banyak ikan patin terjerat pancing. Sekitar jam 16.00 wib kulihat kresek sudah hampir penuh. Umpanpun habis tak bersisa. Lepas sudah hati suram memancing di kolam.

"Bawa saja pulang semua,"ujar Rusli Syarief, pria bertopi itu, yang adalah kepala dinas pertanian dan ketahanan pangan kabupaten Rohil. (andy)